Udara Makin Kering, Paru-paru Makin Bekerja Keras serta Ancaman ISPA dan Asma di Musim El Niño
Kalau Anda tinggal di kota besar atau dekat area perkebunan, perhatikan langit pagi di musim kemarau nanti. Berkabut, keabu-abuan, matahari redup padahal tidak mendung. Itu bukan kabut biasa. Itu polusi.
Setiap kali El Niño datang, Indonesia menghadapi masalah yang sama berulang: kebakaran hutan dan lahan yang mengirimkan asap ke mana-mana, udara yang makin kering dan berdebu, serta lonjakan kasus gangguan pernapasan. Dan tahun ini, dengan prediksi El Niño Godzilla, kondisinya bisa lebih parah dari yang sudah-sudah.
Kenapa Udara Jadi Masalah Besar di Musim Kering
Saat curah hujan turun drastis, tidak ada lagi "pencucian udara" alami yang biasa terjadi di musim hujan. Partikel debu, asap kendaraan, polusi industri, dan partikel dari pembakaran lahan menumpuk di atmosfer tanpa sempat dibilas oleh air hujan.
Di luar kota, kebakaran hutan dan lahan yang nyaris mustahil dihindari saat kemarau panjang menghasilkan asap yang mengandung partikel PM2.5. Partikel ini ukurannya sangat kecil, jauh lebih kecil dari sehelai rambut, dan bisa menembus jauh ke dalam paru-paru. Masker kain biasa pun tidak efektif menyaringnya.
Di dalam kota, situasinya tidak jauh berbeda. Kombinasi polusi kendaraan, debu konstruksi, dan udara kering bisa membuat indeks kualitas udara menyentuh level "tidak sehat" selama berminggu-minggu tanpa jeda.

ISPA Bukan Cuma Batuk Pilek Biasa
ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut mencakup banyak kondisi: dari batuk pilek ringan, radang tenggorokan, bronkitis, sampai pneumonia. Di musim normal, ISPA sudah umum. Di musim El Niño, kasusnya bisa melonjak jauh.
Penyebabnya ada di mekanisme pertahanan saluran napas kita sendiri. Normalnya, saluran napas dilindungi oleh lendir dan silia, yaitu rambut-rambut halus yang bergerak ritmis untuk mendorong kotoran dan kuman keluar. Saat udara sangat kering, lendir ini mengering dan silia tidak bisa bekerja optimal. Kuman yang seharusnya terbuang justru masuk lebih dalam.
Anak-anak di bawah 5 tahun paling sering terdampak. Saluran napas mereka lebih kecil, jadi pembengkakan ringan saja sudah bisa menyebabkan sesak. Tapi orang dewasa juga tidak kebal, terutama yang bekerja di lingkungan berdebu atau terpapar asap setiap hari.
Yang perlu diwaspadai: batuk yang tidak kunjung reda lebih dari seminggu, sesak napas saat aktivitas ringan, demam yang naik turun, dan dahak yang berubah warna menjadi hijau atau kecokelatan.
Asma yang Kambuh Tanpa Peringatan
Bagi penderita asma, El Niño adalah musim yang penuh jebakan. Udara kering, debu, asap semuanya adalah pemicu yang bisa membuat asma kambuh kapan saja, bahkan pada mereka yang selama ini merasa kondisinya sudah terkontrol.
Skenario yang sering terjadi: seseorang yang sudah lama tidak mengalami serangan asma tiba-tiba terbangun malam dengan dada sesak dan napas berbunyi. Atau anak yang biasanya hanya batuk ringan saat kena dingin, tiba-tiba harus nebulizer karena sesak berat setelah bermain di luar siang hari.
Partikel PM2.5 dari asap kebakaran hutan adalah pemicu asma yang sangat kuat. Pada hari-hari dengan kualitas udara buruk, kunjungan UGD untuk serangan asma bisa meningkat dua sampai tiga kali lipat.
Yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang
Tidak semua orang bisa menghindari udara luar, terutama yang harus bekerja di lapangan. Tapi ada beberapa hal yang bisa mengurangi risiko secara nyata.
Pantau kualitas udara harian lewat aplikasi IQAir atau situs BMKG. Kalau indeks AQI sudah di atas 150, batasi aktivitas di luar untuk anak-anak dan lansia. Di dalam rumah, tutup jendela saat kualitas udara sedang buruk. Kalau punya AC, gunakan mode recirculate agar udara dari luar tidak langsung masuk.
Untuk penderita asma, pastikan inhaler selalu dalam jangkauan. Jangan tunggu serangan terjadi baru cari obat. Kalau asma sudah mulai kambuh lebih sering dari biasanya, itu tanda untuk segera ke dokter. Terapi mungkin perlu disesuaikan untuk menghadapi beberapa bulan ke depan.
Minum air putih yang cukup juga penting, bukan hanya soal hidrasi. Tubuh yang cukup terhidrasi membantu menjaga kelembapan saluran napas dari dalam, sehingga lebih tahan terhadap udara kering.
Kalau batuk sudah lebih dari seminggu, sesak terasa memburuk, atau ada demam yang menyertai, jangan tunda. Periksakan ke dokter di Klinik Mitra Keluarga untuk memastikan tidak ada infeksi yang berkembang lebih serius.
Artikel ini bagian kedua dari seri "Sehat di Musim El Niño" oleh Klinik Mitra Keluarga.
