Kemarau Panjang, Air Langka — Kenapa Diare dan Leptospirosis Justru Mengancam di Musim Kering
Ini salah satu ironi El Niño yang jarang dibicarakan. Banyak orang mengira penyakit berbasis air itu urusan musim hujan: banjir, genangan, air kotor di mana-mana. Tapi kenyataannya, di musim kemarau panjang, penyakit seperti diare, infeksi kulit, dan bahkan leptospirosis justru bisa naik. Bukan karena airnya banyak, tapi karena airnya terlalu sedikit.
Kedengarannya kontradiktif. Tapi logikanya masuk akal, dan sangat penting dipahami saat El Niño “Godzilla” berpotensi membuat kemarau tahun ini lebih panjang dari biasa.
Saat Air “Bersih” Tidak Lagi Bersih
Di musim normal, sumur dan sungai punya volume air yang cukup. Saat kemarau berkepanjangan, level air tanah turun. Sumur di daerah padat penduduk, terutama pinggiran kota dan pedesaan, mulai mengering atau volumenya menyusut drastis.
Di sinilah masalahnya. Saat volume air berkurang, konsentrasi bakteri dan kontaminan di dalamnya justru meningkat karena efek pengencerannya hilang. Air yang tadinya terasa “cukup bersih” sekarang bisa mengandung lebih banyak E. coli dan berbagai patogen lainnya.
Ditambah lagi, saat sumur dangkal mengering, banyak warga beralih ke sumber air alternatif yang kualitasnya tidak terjamin:
- Air sungai yang sudah tercemar limbah
- Tampungan air hujan yang lama tergenang
- Air kiriman tangki yang sumber dan kebersihan penampungannya tidak jelas
Dari sinilah diare bermula. Bukan karena banjir, tapi karena air minum dan air untuk memasak yang kita gunakan tidak lagi seaman yang kita asumsikan.
Diare di Musim Kering Lebih Berbahaya dari Biasanya
Diare sering dianggap sepele untuk orang dewasa yang sehat: tidak enak badan beberapa hari lalu pulih. Namun di musim kemarau panjang dan cuaca sangat panas, risikonya meningkat.
Saat tubuh sudah sedikit dehidrasi karena panas, lalu kehilangan cairan lagi lewat diare dan muntah, kondisi bisa memburuk sangat cepat. Dehidrasi ganda seperti ini terutama berbahaya bagi:
- Bayi dan balita
- Lansia
- Ibu hamil
- Penderita penyakit kronis (misalnya penyakit ginjal, jantung, atau diabetes)
Pada El Niño 2015, beberapa daerah di Indonesia melaporkan lonjakan kasus diare pada balita yang berkaitan dengan penurunan kualitas air dan sanitasi yang terganggu.
Segera waspada dan cari bantuan medis bila:
- Diare berlangsung lebih dari tiga hari, atau
- Disertai darah atau lendir, atau
- Disertai demam tinggi, muntah terus-menerus, anak tampak sangat lemas, mata cekung, bibir kering, atau jarang buang air kecil.
Kondisi-kondisi ini bisa menandakan infeksi bakteri yang membutuhkan antibiotik atau perawatan cairan infus.
Kulit Juga Kena Imbasnya
Air yang kualitasnya menurun tidak hanya mempengaruhi pencernaan. Mandi, cuci muka, atau mencuci pakaian dengan air yang terkontaminasi bisa memicu berbagai masalah kulit:
- Gatal-gatal dan ruam
- Infeksi jamur di lipatan kulit (ketiak, selangkangan, bawah payudara)
- Jerawat dan folikulitis (infeksi di akar rambut)
Di daerah yang mengalami krisis air, frekuensi mandi sering berkurang. Ini wajar karena air harus dihemat untuk minum dan memasak. Namun kombinasi:
- Cuaca panas
- Keringat berlebih
- Pakaian yang jarang diganti
- Kurangnya kebersihan badan
menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri dan jamur untuk tumbuh.
Anak-anak yang bermain di tanah kering dan berdebu lalu tidak mandi bersih juga rentan terkena impetigo, yaitu infeksi kulit bakteri yang menular dan muncul sebagai luka berkerak kekuningan di sekitar mulut, hidung, atau anggota gerak. Di musim kemarau panjang, kasus ini sering meningkat di lingkungan sekolah dan balita.
Leptospirosis: Bukan Cuma Musim Banjir
Leptospirosis biasanya dikaitkan dengan banjir: air kotor bercampur urine tikus masuk ke tubuh lewat luka terbuka di kulit. Namun saat kemarau, risiko ini tidak hilang, hanya bergeser bentuknya.
Saat sumber air menyusut, tikus-tikus yang biasa hidup di got dan saluran air terpaksa mencari air dan makanan lebih dekat ke pemukiman manusia. Kontak dengan urine tikus bisa terjadi lewat:
- Genangan air kecil atau tanah lembap di sekitar rumah
- Air sumur atau tampungan yang terkontaminasi
- Makanan yang tidak tertutup rapat dan terpapar tikus
Gejala leptospirosis sering mirip flu atau demam berdarah, antara lain:
- Demam tinggi mendadak
- Nyeri otot hebat, terutama di betis dan punggung
- Sakit kepala berat
- Mata merah
- Mual, muntah, atau nyeri perut
Bila tidak terdeteksi dan ditangani cepat, leptospirosis bisa menyebabkan gangguan ginjal, hati, hingga perdarahan.
Langkah Perlindungan yang Realistis
Di tengah keterbatasan air saat kemarau panjang, fokus pada langkah-langkah perlindungan yang paling berdampak dan masih mungkin dilakukan sehari-hari.
1. Amankan Air Minum
- Selalu rebus air minum sampai benar-benar mendidih (air bergolak) minimal 1 menit.
- Jangan berasumsi sumber air yang biasanya aman tetap aman di musim kemarau.
- Bila memungkinkan, gunakan filter air rumah tangga atau beli air minum kemasan dari sumber terpercaya.
2. Jaga Kebersihan Tangan
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir:
- Sebelum makan atau menyiapkan makanan
- Setelah dari toilet
- Setelah mengganti popok
- Setelah berkontak dengan hewan atau membersihkan kotoran hewan
- Jika air sangat terbatas, gunakan hand sanitizer berbasis alkohol minimal 60% sebagai pengganti sementara.
3. Lindungi Kulit
- Usahakan tetap mandi, meski dengan air terbatas, fokus pada area lipatan dan bagian tubuh yang sering berkeringat.
- Ganti pakaian yang basah oleh keringat sesering mungkin.
- Segera bersihkan luka kecil dengan air bersih dan sabun, lalu tutup dengan plester bila perlu.
4. Kurangi Risiko Leptospirosis
- Selalu pakai alas kaki saat keluar rumah, terutama di area lembap atau dekat selokan.
- Simpan makanan dalam wadah tertutup rapat.
- Segera bersihkan bila terlihat jejak atau kotoran tikus, gunakan sarung tangan dan cuci tangan setelahnya.
- Tutup rapat tempat penampungan air agar tidak mudah terkontaminasi.

5. Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan bila:
- Diare lebih dari dua hari dan tidak membaik
- Diare disertai demam tinggi, darah, atau muntah terus-menerus
- Anak tampak sangat lemas, mengantuk terus, atau tidak mau minum
- Muncul demam mendadak dengan nyeri betis hebat, mata merah, atau sakit kepala berat setelah kontak dengan air atau lingkungan yang diragukan kebersihannya
Untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan dini, Anda dapat mendaftar konsultasi di Klinik Mitra Keluarga melalui tautan berikut:
Periksakan segera ke Klinik Mitra Keluarga
Penanganan lebih awal akan jauh mengurangi risiko komplikasi berat pada ginjal, hati, maupun dehidrasi parah.
---
Artikel ini bagian keempat dari seri “Sehat di Musim El Niño” oleh Klinik Mitra Keluarga.



